Menyusuri Jejak Para Pahlawan, Saat Siswa Kreatif 20 Belajar Mencintai Indonesia

Pak Pol, kenapa sepeda onthel pak polisi zaman dahulu ukurannya besar dibandingkan sekarang?

Pertanyaan polos itu meluncur dari mulut Aslan, siswa kelas 5 Al Hafidz Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya. Di hadapannya berdiri sebuah sepeda patroli peninggalan masa kolonial Belanda yang usianya telah puluhan tahun. Dengan mata berbinar, Aslan memperhatikan setiap sudut sepeda itu, seolah sedang membayangkan bagaimana seorang polisi tempo dulu berpatroli di jalan-jalan Surabaya tanpa kendaraan bermotor.

“Iya, Mas. Karena zaman dahulu belum banyak kendaraan bermotor seperti sekarang. Jadi kalau patroli, para polisi masih menggunakan sepeda onthel ini,” jawab Pak Gusti, instruktur dari Polrestabes Surabaya.

Percakapan singkat tersebut menjadi pembuka perjalanan belajar yang tidak akan mudah dilupakan oleh para siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya. Pada Rabu (5/8/2026), mereka meninggalkan bangku kelas untuk belajar langsung dari ruang-ruang sejarah melalui kegiatan field trip ke Museum Hidup Polrestabes Surabaya dan Museum Pusat TNI Angkatan Laut di kawasan Ujung, Surabaya.

Bagi mereka, hari itu bukan sekadar perjalanan wisata edukasi. Setiap langkah menjadi bagian dari pembelajaran tema “Peninggalan Bersejarah di Daerahku”, materi yang mengintegrasikan mata pelajaran IPAS dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Sekolah ingin menghadirkan sejarah bukan sebagai deretan angka tahun di buku pelajaran, melainkan sebagai pengalaman yang dapat disentuh, dilihat, dan dirasakan langsung.

Sesampainya di Museum Hidup Polrestabes Surabaya, para siswa dibagi menjadi dua kelompok yang didampingi oleh Pak Gusti dan Pak Aji. Mereka memasuki bangunan bersejarah yang masih mempertahankan nuansa masa lampau. Di sepanjang lorong museum, terpajang berbagai koleksi perlengkapan kepolisian, dokumen penting, foto-foto para kepala kepolisian dari masa sebelum kemerdekaan hingga sekarang, serta benda-benda peninggalan era kolonial Belanda.

Para siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya melihat langsung benda benda bersejarah yang ada di koleksi Museum Hidup Polrestabes Surabaya

Tak sedikit siswa yang sibuk mengangkat tangan untuk bertanya. Rasa ingin tahu mereka seakan tumbuh seiring cerita demi cerita yang disampaikan para pemandu.

Suasana semakin meriah ketika rombongan diajak menuju lapangan demonstrasi Korps K-9. Seekor anjing pelacak bom bernama Pito menjadi pusat perhatian. Dengan langkah sigap dan penciuman yang tajam, Pito berhasil menemukan benda yang disembunyikan secara acak di dalam salah satu kotak. Tepuk tangan spontan pun menggema. Wajah-wajah kecil itu tampak takjub melihat bagaimana seekor anjing dapat membantu tugas kepolisian menjaga keamanan masyarakat.

Belum selesai rasa kagum mereka, sebuah truk water cannon perlahan memasuki lapangan. Mesin raksasa itu kemudian menyemburkan air bertekanan tinggi yang biasa digunakan untuk mengendalikan massa saat terjadi kerusuhan. Sorak gembira langsung terdengar dari para siswa. Beberapa bahkan melompat kecil sambil bertepuk tangan menikmati demonstrasi tersebut. Kegiatan di Polrestabes ditutup dengan foto bersama di depan water cannon dan bersalaman hangat dengan para anggota kepolisian.

Keseruan melihat truk water canon para siswa ini berpose di depan kendaraaan pengendali massa.

Perjalanan berlanjut menuju Museum Pusat TNI Angkatan Laut di kawasan Ujung, Surabaya. Aroma sejarah kembali menyambut mereka.

Di museum ini, para siswa kembali dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok memasuki ruang teater untuk menyaksikan film dokumenter tentang perjalanan panjang TNI Angkatan Laut Republik Indonesia, mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga perkembangan kekuatan maritim Indonesia saat ini. Sementara kelompok lainnya menyusuri ruang pamer yang dipenuhi diorama, miniatur kapal perang, koleksi senjata, seragam, serta kisah para pahlawan laut Indonesia.

Mereka tidak hanya mengenal sejarah setelah Indonesia merdeka. Para pemandu juga membawa mereka menelusuri kejayaan maritim Nusantara sejak masa Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, ketika lautan menjadi jalur perdagangan sekaligus simbol kejayaan bangsa.

Tatapan para siswa tampak terpaku pada koleksi senjata dan perlengkapan militer yang pernah digunakan untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia. Beberapa di antara mereka saling berdiskusi, sementara yang lain sibuk mencatat hal-hal menarik sebagai bekal laporan pembelajaran mereka.

Berada di anjungan operasi Seroja para siswa ini borpose di depan tank amfibi legendaris yang digunakan dalam operasi militer tersebut.

Bagi Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya, kegiatan ini bukan sekadar memenuhi target kurikulum. Lebih dari itu, sekolah ingin menghadirkan pengalaman yang mampu menyentuh hati para siswa.

“Dengan mengikuti kegiatan outdoor ini kami berharap bisa menggugah jiwa nasionalisme para siswa serta mendorong mereka menceritakan kembali kepada keluarga di rumah tentang kebesaran sejarah bangsa Indonesia,” ujar Ustadzah Ni’mah, pengampu kelas 5 sekaligus guru mata pelajaran PKn.

Menurutnya, ketika siswa melihat langsung bukti-bukti sejarah, mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar menghargai perjuangan para pendiri bangsa yang rela mengorbankan harta, tenaga, bahkan jiwa demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menjelang sore, rombongan pun kembali ke sekolah dengan membawa lebih dari sekadar foto-foto kenangan. Mereka pulang membawa cerita, pengalaman, dan kebanggaan sebagai anak Indonesia.

Sebab sejarah sesungguhnya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga diwariskan. Dan pada hari itu, di antara lorong museum, sepeda onthel tua, gonggongan Pito, hingga deru semburan water cannon, benih-benih cinta tanah air mulai tumbuh di hati para generasi penerus bangsa. (Rudi Ircham)

Para siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya menyaksikan langsung alusista TNI AL yang digunakan dalam operasi Pembebasan Irian Barat