(Sekolah Anak Banget) Siapa sangka, selembar surat yang ditulis dengan penuh keberanian oleh seorang anak mampu membawanya berdiri sejajar dengan para pemimpin bangsa. Bagi Atalayusuf Raiz Nurhakim, siswa kelas V Al Hafiz Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya, menulis bukan sekadar merangkai kata. Melalui tulisannya, ia belajar menyampaikan harapan, menyuarakan keresahan, sekaligus menunjukkan bahwa suara anak juga layak didengar.
Rabu pagi (29/7/2026) menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan Rey. Bersama ribuan anak dari berbagai jenjang pendidikan, ia hadir di Balai Pemuda dan Alun-Alun Kota Surabaya dalam puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026. Sejak pagi, kawasan tersebut dipenuhi wajah-wajah ceria anak-anak yang datang membawa semangat untuk merayakan hari istimewa mereka.

Para siswa sekolah Se Surabaya yang masuk nominasi dalam menulis surat untuk Pak Walikota dalam memperingati Hari Anak Nasional
Mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan Anak Surabaya Hebat”, kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 28–29 Juli 2026, diikuti lebih dari 5.000 anak dan sekitar 750 pelajar SD hingga SMA. Momentum tersebut semakin bermakna dengan kehadiran Wali Kota Surabaya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Arifah Fauzi, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Abdul Mu’ti, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia Muhammad Qodari, serta Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Aris Adi Leksono.
Di tengah kemeriahan acara, nama Rey dipanggil untuk menerima penghargaan sebagai Juara Terbaik I Kompetisi Menulis Surat untuk Wali Kota Surabaya. Prestasi tersebut mengantarkannya menerima apresiasi langsung dari para menteri dan pejabat negara. Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajahnya ketika menerima penghargaan, mendengarkan motivasi, hingga mengabadikan momen berharga bersama Ayah dan Bunda Menteri.
Namun, penghargaan itu bukanlah akhir dari perjalanan Rey. Justru semuanya berawal dari sebuah kegelisahan sederhana yang sering ia rasakan sebagai anak Surabaya.

Mas Rey saat menerima penghargaan langsung dari Pak Eri Cahyadi Walikota Surabaya dalam peringatan Hari Anak Nasional
Rey melihat bahwa masih sedikit ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan anak-anak untuk bermain sepak bola. Melalui surat yang ditujukan kepada Wali Kota Surabaya, ia dengan jujur menyampaikan harapan agar pemerintah dapat menghadirkan lebih banyak lapangan dan ruang bermain yang aman, nyaman, serta mudah dijangkau. Baginya, setiap anak berhak memiliki tempat untuk bermain, berolahraga, dan mengasah mimpi.
“Kalau lapangan lebih banyak, anak-anak bisa bermain sepak bola bersama teman-temannya. Siapa tahu nanti lahir pemain hebat yang mengharumkan nama Indonesia,” begitu semangat yang tersirat dalam surat Rey.
Keberanian menyampaikan gagasan itulah yang akhirnya mengantarkannya menjadi pemenang. Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa tulisan memiliki kekuatan besar. Sebuah surat mampu membuka ruang dialog antara anak dan pemimpin, bahkan menjadi jembatan yang mempertemukan seorang siswa dengan para tokoh penting negeri ini.
Bagi keluarga besar Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya, capaian Rey bukan sekadar raihan juara. Prestasi ini menjadi bukti bahwa budaya literasi yang terus ditanamkan di sekolah mampu melahirkan peserta didik yang kritis, peduli terhadap lingkungan, berani menyampaikan pendapat, serta memiliki akhlak mulia. Menulis bukan hanya tentang kemampuan merangkai kalimat, tetapi juga tentang keberanian menyampaikan kebaikan dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Semoga kisah inspiratif Rey menjadi penyemangat bagi seluruh siswa untuk terus membaca, menulis, berpikir kreatif, dan tidak takut menyampaikan ide-ide terbaiknya. Karena siapa tahu, dari sebuah tulisan sederhana hari ini, akan lahir perubahan besar bagi masa depan. Sesuai dengan semangat Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya, setiap anak memiliki kesempatan untuk berkarya, menginspirasi, dan memberi manfaat bagi sesama.
Selamat, Rey! Teruslah menulis, teruslah bermimpi, karena karya yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalannya menuju prestasi. (tyah)