SURABAYA – “Kak, memang dulu para pejuang tidak takut?”
(Sekolah Anak Banget) Pertanyaan polos seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, dari balik pertanyaan seorang anak kelas satu, tersimpan rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana para pejuang dahulu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Jumat, 7 Agustus 2026, suasana di Masjid Mas Mansyur Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya tampak berbeda. Siswa-siswi kelas satu dari kelas 1 Ant, 1 Bee, dan 1 Butterfly berkumpul untuk mengikuti kegiatan indoor bersama seorang tamu istimewa, Kak Hilmi.
Kedatangan Kak Hilmi bukan sekadar untuk menyapa atau menghibur. Ia hadir membawa cerita. Bukan sembarang cerita pula, melainkan kisah perjuangan dan semangat nasionalisme yang dikemas dalam bentuk dongeng agar mudah diterima oleh anak-anak seusia mereka.
Tema perjuangan sengaja dipilih bertepatan dengan bulan kemerdekaan Republik Indonesia. Tahun ini, Indonesia memasuki usia 81 tahun kemerdekaan, sebuah perjalanan panjang yang tidak mungkin dilepaskan dari kisah perjuangan para pendiri bangsa.
Bagi anak-anak kelas satu, sejarah tentu belum selalu mudah dipahami. Karena itu, kisah perjuangan disampaikan melalui dongeng yang dekat dengan dunia mereka. Ada cerita, ada ekspresi, ada humor, dan tentu saja ada interaksi yang membuat suasana semakin hidup.

Para siswa kelas satu Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya mendengarkan dan melihat langsung dongeng dari Kak Hilmi
Antara Dongeng dan Tingkah Polah Anak Kelas Satu
Anak-anak terlihat antusias menyimak cerita Kak Hilmi. Beberapa pasang mata tampak fokus mengikuti setiap bagian dongeng. Namun, namanya juga anak kelas satu, konsentrasi mereka tidak selalu bertahan lama.
Ada yang tiba-tiba mengangkat tangan dan melontarkan pertanyaan polos khas anak-anak.
Ada pula yang masih sibuk bergerak ke sana kemari.
Bahkan, beberapa siswa sempat berlarian kecil di dalam masjid.
Namun, justru di situlah warna kegiatan indoor kelas satu terasa. Tidak harus selalu duduk diam dan mendengarkan dalam waktu lama. Rasa ingin tahu anak-anak muncul dengan cara mereka sendiri.
Ketika sebuah cerita mampu membuat mereka bertanya, tertawa, membayangkan, bahkan berusaha memahami apa yang terjadi pada masa perjuangan, sesungguhnya proses belajar sedang berlangsung.
Kak Hilmi pun berusaha membawa anak-anak masuk ke dalam suasana cerita. Para siswa diajak membayangkan bagaimana kehidupan para pejuang pada masa lalu dan mengapa kemerdekaan Indonesia harus diperjuangkan dengan penuh keberanian dan pengorbanan.
Menanam Nasionalisme Tidak Harus Menunggu Besar
Kegiatan indoor tersebut memiliki tujuan yang sederhana, tetapi penting: menumbuhkan rasa ingin tahu siswa terhadap perjuangan para pahlawan sekaligus menanamkan semangat nasionalisme sejak dini.
Anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada kata “merdeka”, tetapi juga diajak memahami bahwa kemerdekaan yang mereka nikmati hari ini memiliki sejarah panjang.
Jika dahulu para pejuang berjuang dengan keberanian dan pengorbanan, maka anak-anak masa kini memiliki cara berbeda untuk meneruskan perjuangan tersebut.
Belajar dengan sungguh-sungguh, menghormati orang lain, menjaga persatuan, mencintai tanah air, serta menjadi anak yang bertanggung jawab merupakan bentuk perjuangan generasi masa kini.
Pesan itulah yang ingin ditanamkan Sekolah Kreatif Muhammadiyah 20 Surabaya melalui kegiatan tersebut.
Sebab, nasionalisme tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari hal sederhana yang dilakukan seorang anak setiap hari.
Dari Masjid Mas Mansyur untuk Masa Depan Indonesia
Para ustadz dan ustadzah berharap kegiatan semacam ini menjadi pengalaman yang membekas bagi siswa. Meskipun sebagian cerita mungkin belum sepenuhnya mereka pahami hari itu, benih-benih rasa cinta tanah air diharapkan mulai tumbuh.
Kelak, ketika mereka semakin besar dan mulai memahami sejarah Indonesia dengan lebih utuh, cerita yang mereka dengarkan di kelas satu mungkin akan menjadi salah satu kepingan kecil yang mengingatkan mereka tentang pentingnya perjuangan.
Dari Masjid Mas Mansyur, dari ruang sederhana tempat anak-anak mendengarkan dongeng, semangat itu ditanamkan.
Bukan dengan ceramah panjang.
Bukan pula dengan hafalan sejarah yang berat.
Tetapi melalui dongeng, tawa, pertanyaan polos, dan imajinasi anak-anak.
Para ustadz dan ustadzah Sekolah Kreatif 20 pun berharap siswa-siswi kelas satu kelak tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter, rasa cinta tanah air, serta mewarisi semangat perjuangan para founding father bangsa.
Sebab, Indonesia di masa depan akan berada di tangan anak-anak kecil yang hari ini masih duduk di kelas satu.
Dan mungkin, salah satu awal tumbuhnya semangat itu adalah dari sebuah dongeng sederhana tentang perjuangan yang mereka dengarkan pada pagi Agustus di Masjid Mas Mansyur. (Rudi Ircham)

Kecerian semua siswa kelas satu Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya bersama Kak Hilmi