Semarak HUT RI ke-81, Sekolah Kreatif Gelar Berbagai Lomba

 “Tarik! Tarik! Tarik!”

(Sekolah Anak Banget) Suara itu pecah dari halaman Masjid Mas Mansyur, Senin (10/8/2026). Enam siswa di satu sisi tali tambang menarik sekuat tenaga. Tubuh mereka condong ke belakang, kaki menjejak tanah, sementara sorakan teman-teman dari pinggir arena membuat suasana semakin riuh.

Di sisi lain, enam siswa juga tak mau menyerah.

Tali tambang bergerak perlahan. Wajah-wajah kecil itu mulai memerah. Tenaga terus dikerahkan. Tak ada yang ingin melepas genggaman sebelum peluit tanda pertandingan berakhir.

Pemandangan sederhana itu menjadi pembuka semarak HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya.

Selama sepekan, Senin hingga Jumat (10–14/8/2026), halaman sekolah di Tembok Butulan 7 Surabaya berubah menjadi arena penuh kegembiraan. Berbagai perlombaan disiapkan untuk siswa-siswi, bukan sekadar untuk mencari juara, tetapi untuk menghadirkan kembali semangat perjuangan dalam suasana yang dekat dengan dunia anak-anak.

Dan tarik tambang menjadi pertandingan pertama.

Lomba tarik tambang sesi pertama kelas kecil (kelas 1 hingga kelas 3)

Bukan Sekadar Tarik Tali

Bagi sebagian orang, tarik tambang mungkin hanya permainan sederhana. Dua kelompok saling berhadapan, memegang seutas tali, kemudian menariknya sekuat tenaga.

Namun, bagi siswa Sekolah Kreatif 20, ada banyak hal yang sedang dipelajari dari seutas tali tersebut.

Ada kerja sama. Ada strategi. Ada disiplin. Ada keberanian. Ada sportivitas. Dan yang tak kalah penting, ada pelajaran tentang menerima kemenangan sekaligus kekalahan.

Enam siswa dalam satu tim, baik kategori girls maupun boys, harus mampu menyatukan kekuatan. Tidak cukup hanya mengandalkan otot. Mereka harus tahu kapan menarik, bagaimana menjaga keseimbangan, serta bagaimana mengikuti irama dan strategi tim.

Sebab, dalam tarik tambang, kekuatan satu orang tidak akan berarti banyak jika tidak berjalan bersama kekuatan lima orang lainnya.

Di situlah nilai pendidikan dari permainan ini terasa.

Anak-anak belajar bahwa sebuah tujuan tidak selalu bisa dicapai sendirian. Ada saat ketika mereka harus saling menguatkan, saling percaya, dan bergerak dalam satu irama.

Menang Bukan Segalanya

Sorak kemenangan tentu menjadi bagian paling menyenangkan dari perlombaan. Namun, Sekolah Kreatif 20 ingin anak-anak memahami bahwa kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Ada tim yang menang. Ada tim yang harus menerima kekalahan.

Tetapi semua memiliki satu kesamaan: mereka sudah berani turun ke arena dan memberikan kemampuan terbaik.

Pesan itulah yang ditekankan Kepala Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya, Ustadzah Tyah. Menurutnya, perlombaan kemerdekaan seharusnya menjadi ruang bagi anak-anak untuk merasakan kegembiraan sekaligus belajar tentang semangat perjuangan.

“Menang kalah tidak apa-apa, yang penting kamu sudah melakukannya dengan baik. Hindari perasaan takut, tunjukkan semangat, dan jalin kekompakan. Menang itu bonus, tapi proses melakukan yang terbaik, itu yang paling penting,” katanya.

Pesan tersebut menjadi penting, sebab anak-anak tidak hanya sedang belajar bagaimana menjadi pemenang. Mereka juga sedang belajar bagaimana menjadi pribadi yang mampu menghadapi hasil yang tidak sesuai harapan.

Rayyan dan Pelajaran dari Kekalahan

Pelajaran itu dirasakan langsung oleh Rayyan, siswa kelas 2.

Usai pertandingan, ia mengaku senang bisa mengikuti lomba tarik tambang. Baginya, pertandingan tersebut tidak semudah yang dibayangkan.

“Aku senang lomba tarik tambang ini. Butuh usaha untuk bisa menang,” ujar Rayyan.

Ia merasakan sendiri betapa beratnya mempertahankan posisi ketika berhadapan dengan lawan. Tubuhnya harus terus bergerak dan mengerahkan tenaga agar timnya mampu memenangkan pertandingan.

Namun, perjuangan itu belum membawa timnya menjadi pemenang.

Rayyan kalah.

Tetapi kekalahan tersebut tidak membuatnya berhenti berharap. Ia justru ingin kembali mencoba pada kesempatan berikutnya dengan semangat yang lebih besar.

“Aku sudah berjuang di pertandingan ini, tapi hasilnya kalah. Aku berharap di lain waktu aku bisa berusaha lebih agar bisa menang,” harapnya.

Kalimat Rayyan mungkin sederhana. Tetapi dari sanalah semangat kemerdekaan menemukan maknanya dalam dunia anak-anak.

Berani mencoba. Berani berjuang. Berani menerima hasil. Dan yang paling penting, berani bangkit untuk mencoba kembali.

Karena di Sekolah Kreatif 20, semarak HUT RI ke-81 bukan hanya tentang siapa yang berdiri sebagai juara di akhir pertandingan.

Lebih dari itu, ada proses panjang yang sedang ditanamkan: semangat untuk tidak mudah menyerah, kekompakan untuk berjalan bersama, dan keberanian untuk memberikan yang terbaik.

Sebab, jika kemenangan adalah bonus, maka perjuangan adalah kemenangan yang sesungguhnya. (Tahar Lebo)

Lomba tarik tambang untuk putri kelas besar (kelas 4 hingga kelas 6)