(Sekolah Anak Banget) Bukan sekadar perjalanan wisata, apalagi hanya bermain dan bersenang-senang. Tiga hari di Madiun menjadi perjalanan penuh pengalaman, tantangan, dan pembelajaran karakter bagi siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya. Mulai dari belajar disiplin menggunakan kereta api, mengenal pelestarian hutan, membuat roti, merasakan tantangan ala prajurit TNI AU, hingga menikmati keseruan permainan air di Telaga Sarangan. Semua terangkum dalam kegiatan outbound edukatif yang berlangsung pada 27–29 Oktober 2026.
Selasa (27/10/2026), suasana Stasiun Gubeng Surabaya tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya berkumpul dengan wajah penuh semangat. Mereka bukan hendak melakukan tamasya biasa. Tujuan perjalanan kali ini adalah Markas Kopasgat TNI AU di Madiun untuk mengikuti kegiatan outbound selama tiga hari.
Ada yang berbeda dari pelaksanaan outbound tahun ini. Jika biasanya perjalanan menggunakan bus, kali ini sekolah memilih kereta api sebagai moda transportasi. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Perjalanan dengan kereta api menjadi bagian dari pembelajaran nyata bagi siswa untuk mengenal kedisiplinan sejak awal.
Mulai dari belajar menghargai waktu keberangkatan, tertib mengantre saat membeli tiket, mengikuti aturan perjalanan, hingga menghormati penumpang lain di dalam kereta. Hal-hal sederhana yang mungkin selama ini hanya disampaikan melalui nasihat di kelas, kini mereka praktikkan secara langsung.
Sekolah Kreatif memang menjadikan outbound kelas 5 sebagai agenda tahunan. Kegiatan ini dirancang sebagai momentum pembentukan karakter sebelum para siswa melanjutkan perjalanan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Bagi para ustaz dan ustazah, kelas 5 merupakan fase penting untuk mempersiapkan anak agar semakin mandiri, disiplin, bertanggung jawab, dan mampu menghargai orang lain.
Kedisiplinan menjadi bekal utama yang ingin ditanamkan melalui kolaborasi bersama Kopasgat TNI AU. Harapannya, setelah mengikuti kegiatan ini, para siswa semakin mampu menghargai waktu, menjaga sikap, menghormati orang tua serta ustaz dan ustazah, sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Belajar Mencintai Hutan Bersama Perhutani
Petualangan hari pertama tidak hanya diisi dengan kegiatan bersama Kopasgat TNI AU. Para siswa juga mendapatkan pengalaman belajar langsung bersama jajaran Perhutani.
Di sini, mereka diajak mengenal lebih dekat pentingnya menjaga kelestarian hutan dan merawat pepohonan sebagai bagian penting dari ekosistem kehidupan.
Bukan hanya mendengarkan penjelasan, para siswa juga belajar mengenali usia pohon, memahami cara memperkirakan tinggi pohon, serta mengetahui manfaat pohon sebagai penghasil oksigen dan sumber kehidupan bagi berbagai makhluk hidup.
Kampanye menanam pohon pun menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan. Anak-anak diajak memahami bahwa menjaga hutan bukan sekadar kegiatan menanam, tetapi juga upaya mencegah bencana dan mempertahankan keseimbangan lingkungan.

Para siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya belajar menghitung umur pohon serta tinggi pohon.
Dari Hutan ke Pabrik Roti, Belajar Membuat Camilan Sendiri
Keseruan berikutnya berlanjut ke dunia kuliner. Kali ini, para siswa mendapatkan pengalaman soft skill bersama pabrik roti Twetty.
Jika selama ini mereka hanya mengenal roti sebagai makanan yang siap disantap, kini mereka berkesempatan melihat langsung proses pembuatannya. Mulai dari menyiapkan bahan, mengolah adonan, hingga memahami proses memasak agar menghasilkan roti yang lezat.
Pengalaman tersebut tentu menjadi sesuatu yang menarik. Anak-anak bisa belajar bahwa makanan yang setiap hari mereka nikmati membutuhkan proses, keterampilan, ketelitian, dan kesabaran.
“Wah, enak sekali kue buatanku ini,” ujar Angga, salah satu siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya, antusias setelah mencicipi hasil kreasinya sendiri.

Para siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya belajar membuat roti din pabrik roti Twetty Madiun.
Rasakan Tantangan ala Prajurit Kopasgat TNI AU
Inilah salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu para siswa. Berada di lingkungan Markas Kopasgat TNI AU memberikan pengalaman berbeda yang tidak mereka temukan dalam pembelajaran sehari-hari.
Para siswa mendapatkan tantangan outbound yang dirancang untuk melatih keberanian, ketangkasan, kedisiplinan, dan kekompakan. Mereka diajak melewati berbagai permainan halang rintang, termasuk merayap dan melompati rintangan yang menjadi bagian dari latihan fisik prajurit.
Dengan wajah yang dihias coretan khas pasukan komando, para siswa tampak semakin bersemangat mengikuti setiap tantangan. Satu demi satu rintangan mereka lalui bersama teman-temannya.
Ada yang terlihat begitu percaya diri, ada pula yang sempat ragu sebelum mencoba. Namun, dukungan teman dan arahan pendamping membuat suasana semakin hidup. Sorak sorai dan tawa pun mewarnai setiap tantangan yang berhasil diselesaikan.
Di sinilah anak-anak belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan kemauan untuk mencoba, berusaha, dan tidak mudah menyerah.

Para siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya menuju ke tantangan bersama para pelatih dari Kopasgat TNI AU

Tantangan Rapling yang tingginya hampir 15 meter bersama pelatih dari Kopasgat TNI AU
Hari Kedua, Mengintip Proses Pembuatan Gula di Pabrik Gula Purwodadi
Memasuki hari kedua, Rabu (28/10/2026), petualangan edukatif siswa kelas 5 berlanjut ke Pabrik Gula Purwodadi di Madiun.
Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi para siswa untuk melihat secara langsung proses produksi gula pasir yang selama ini hanya mereka kenal dalam bentuk kemasan di rumah.
Dengan didampingi pihak manajemen pabrik, para siswa diperkenalkan pada perjalanan panjang tebu hingga menjadi gula kristal. Mereka belajar bahwa proses pembuatan gula membutuhkan tahapan pengolahan yang panjang, mesin-mesin khusus, serta pengaturan suhu yang tepat.
Rasa ingin tahu anak-anak pun bermunculan ketika melihat berbagai peralatan produksi berukuran besar.
“Pak, kenapa ada tabung-tabung besar di situ, apa kegunaannya?” tanya Alif polos saat melihat deretan tabung besar di area pabrik.
Pertanyaan tersebut langsung mendapat penjelasan dari pihak manajemen. Tabung-tabung besar itu digunakan dalam proses pengolahan, termasuk menampung uap yang dimanfaatkan untuk memanaskan cairan gula.
Pengalaman ini membuat pembelajaran IPAS terasa lebih nyata. Anak-anak tidak hanya membaca bagaimana suatu bahan pangan diproduksi, tetapi menyaksikan langsung prosesnya di lingkungan industri.

Keseruan siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya saat mengunjungi pabrik gula Purwodadi Madiun
Hari Ketiga, Keseruan Permainan Air di Telaga Sarangan
Jika dua hari sebelumnya para siswa disibukkan dengan berbagai pengalaman belajar dan tantangan, hari ketiga menjadi puncak keseruan outbound.
Kamis (29/10/2026), para siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya mendapatkan pengalaman seru di Telaga Sarangan, Magetan.
Kali ini, mereka diajak menikmati permainan air menggunakan motor boat yang membawa mereka mengarungi telaga. Bukan sekadar menikmati pemandangan, kegiatan tersebut juga menghadirkan permainan kelompok yang menguji kekompakan dan kerja sama.
Dengan penuh antusias, para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka mengikuti permainan perang-perangan air menggunakan bom plastik berisi air berwarna.
Suasana telaga pun semakin meriah oleh gelak tawa dan semangat anak-anak. Saling menyemangati, menyusun strategi permainan, hingga bekerja sama dengan anggota kelompok menjadi bagian dari pengalaman yang sulit dilupakan.
Setelah tiga hari menjalani berbagai kegiatan, outbound kelas 5 tahun ini bukan hanya meninggalkan cerita tentang keseruan permainan, tetapi juga pengalaman berharga tentang arti kedisiplinan, keberanian, tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Kami berharap para siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya ini mampu bersaing seiring dengan bertambahnya usia. Maka dari itu, kami memberikan bekal kedisiplinan dengan mengikuti kegiatan outbound ini,” ungkap Ustazah Elok, salah satu pengampu kelas 5.
Tiga hari mungkin terasa singkat. Namun, pengalaman yang diperoleh para siswa menjadi bekal penting untuk perjalanan mereka berikutnya. Sebab, pendidikan tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas.
Terkadang, anak-anak justru menemukan pelajaran paling berharga ketika mereka berani mencoba, berinteraksi dengan lingkungan, menghadapi tantangan, dan belajar bertanggung jawab atas setiap tindakan. (Rudi Ircham)

Persiapan menuju pertempuran di Telaga Sarangan bersama para pelatih TNI AU