Inilah Pesta Kreativitas Siswa Kelas Satu dan Empat Sekolah Kreatif 20

(Sekolah Anak Banget)  Ada yang menari, ada yang bermain, ada pula yang sibuk menjelaskan hasil proyeknya. Suasana halaman depan Masjid Mas Mansyur Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya, Selasa (15/9/2026), mendadak berubah menjadi panggung besar penuh warna dan keceriaan.

Sejak pagi hingga menjelang siang, halaman sekolah tumpah ruah oleh siswa kelas 1 dan kelas 4, para ustaz dan ustazah, serta karyawan sekolah yang bersinergi dalam sebuah gelaran bertajuk Pesta Kreativitas Siswa Kelas 1 dan 4.

Bukan sekadar pertunjukan. Pesta kreativitas ini menjadi ruang bagi para siswa untuk menunjukkan hasil belajar, keberanian tampil, kemampuan bekerja sama, sekaligus mengenal kembali kekayaan seni dan budaya Nusantara.

Pesta Kreatifitas Siswa Kreatif 20 ajang unjuk gigi kemampuan siswa kelas 1 dan 4

Ketika Anak Kelas Satu Menari, Halaman Sekolah Pun Berseri

Keceriaan paling terasa ketika siswa kelas 1 tampil memperagakan beragam tarian daerah Nusantara. Dengan gerakan yang masih polos dan penuh spontanitas, para siswa berusaha mengikuti setiap irama dan koreografi yang telah mereka latih.

Sesekali gerakan mereka tidak serempak. Ada yang terlambat mengikuti musik, ada pula yang tiba-tiba lupa gerakan. Namun, justru momen-momen itulah yang membuat suasana semakin hangat. Gelak tawa penonton pecah, bukan karena mengejek, tetapi karena melihat kepolosan dan keberanian anak-anak kelas 1 ketika berada di atas panggung.

Di antara para penampil, Amira menjadi salah satu siswa yang menunjukkan bakatnya melalui tarian Papua.

“Aku senang bisa menari bersama teman-teman,” ujar Amira, siswa kelas 1 Butterfly, dengan penuh kegembiraan.

Bagi anak-anak seusia mereka, keberanian untuk tampil di depan banyak orang merupakan pengalaman yang tidak sederhana. Mereka belajar bahwa sebuah penampilan tidak harus sempurna untuk bisa diapresiasi. Yang terpenting adalah berani mencoba, menikmati proses, dan tampil bersama teman-teman.

Siswa kelas satu ant, buterfly dan bee Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya menunjukkan bakatnya di bidang tari

Kelas Empat Bawa Permainan Tradisional ke Tengah Lapangan

Kemeriahan berlanjut ketika giliran siswa kelas 4 memperlihatkan hasil proyek mereka. Selama beberapa hari, para siswa tidak hanya mempelajari permainan tradisional, tetapi juga membuat maket dan menyiapkan presentasi mengenai permainan yang mereka pilih.

Yang menarik, proyek tersebut tidak berhenti pada pajangan.

Para siswa kelas 4 langsung mengajak siswa dari kelas lain hingga para guru untuk turun ke lapangan dan memainkan berbagai permainan tradisional seperti gobak sodor, engklek, dan patil lele.

Dalam sekejap, lapangan sekolah menjadi arena permainan lintas generasi. Anak-anak berlari, tertawa, saling menyemangati, sekaligus belajar bekerja sama.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan semakin lekatnya anak-anak dengan gadget, permainan tradisional menjadi pengingat bahwa masa kecil juga pernah dipenuhi permainan sederhana yang mengajarkan banyak hal: sportivitas, komunikasi, strategi, kerja sama, dan kepedulian terhadap teman.

Permainan tradisional mungkin sederhana, tetapi nilai yang dibawanya tidak pernah lekang oleh zaman.

Di sanalah salah satu makna penting dari proyek ini. Anak-anak tidak hanya diajak mengetahui nama permainan tradisional, tetapi juga memahami bahwa permainan tersebut merupakan bagian dari identitas budaya bangsa.

Bakiak dan Cerita Budaya dari Siswa Kelas 4

Salah satu siswa kelas 4 Tongkonan, Arsi, turut mempresentasikan permainan tradisional bakiak. Dengan percaya diri, ia menjelaskan cara bermain sekaligus asal permainan tersebut.

“Permainan bakiak ini dimainkan biasanya empat orang. Permainan ini berasal dari Sumatera Barat,” jelas Arsy.

Keberanian Alea dan teman-temannya berbicara di depan orang lain menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Mereka tidak hanya menghafalkan materi, tetapi juga belajar menyampaikan pengetahuan dengan bahasa mereka sendiri.

Begitu pula ketika siswa lain mengajak guru dan teman-temannya bermain. Mereka belajar menjadi pemimpin permainan, menjelaskan aturan, menerima kekalahan, menikmati kemenangan, dan menghargai orang lain.

Semua berlangsung dalam suasana yang menyenangkan.

Siswa kelas empat mempresentasikan permainan tradisional bakiak kepada setiap siswa maupun pengunjung yang lain.

Belajar Budaya, Belajar Menjadi Anak Bangsa

Pesta Kreativitas Siswa Kelas 1 dan 4 merupakan bagian dari kegiatan kokurikuler Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya. Kegiatan ini dirancang sebagai penguatan karakter melalui tugas proyek yang diberikan oleh para ustaz dan ustazah.

Melalui proyek seni, budaya, dan permainan tradisional, siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih luas. Mereka tidak hanya duduk di dalam kelas dan menerima materi, tetapi juga mengalami sendiri proses membuat, mencoba, tampil, mempresentasikan, hingga mengajak orang lain berpartisipasi.

Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana untuk menumbuhkan keberanian siswa dalam mengungkapkan pendapat serta kemampuan berimprovisasi dalam bidang seni dan budaya.

Para ustaz dan ustazah berharap pengalaman yang diperoleh siswa melalui Pesta Kreativitas ini dapat menjadi pengalaman berharga yang terus melekat dalam ingatan mereka.

Sebab, pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang mampu diingat seorang anak. Pendidikan juga tentang pengalaman yang membuat mereka berani tampil, mampu bekerja sama, mengenal budaya sendiri, dan memahami siapa diri mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Para siswa memperagakan cara permaianan tradisional serta mengajak para pengunjung bergabung bermain bersama mereka.

Hari itu, halaman Masjid Mas Mansyur bukan sekadar menjadi tempat pertunjukan. Ia menjelma menjadi ruang belajar yang hidup—tempat anak-anak menari, bermain, tertawa, berbicara, dan menemukan makna menjadi bagian dari Indonesia. (Rudi Ircham)

Para pengunjung melihat dan mengunjungi stand para siswa yang ada di halaman Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya