(Sekolah Anak Banget) Tangan-tangan kecil itu tak lagi memegang buku. Mereka justru sibuk menyusuri akar bakau, memungut botol plastik, mengamati burung migran, hingga menanam tunas mangrove di tepian hutan.
Rabu (23/09/2026), 70 siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya mengubah hutan mangrove Pamurbaya Wonorejo menjadi ruang kelas raksasa. Di tempat inilah teori tentang ekosistem yang selama ini mereka pelajari di dalam kelas diuji langsung di alam.
Perahu bergerak meninggalkan tepian Sungai Wonorejo. Mata para siswa sontak menyapu kanan-kiri. Hutan mangrove terbentang di depan mereka. Suara burung bersahutan, pepohonan bakau berdiri rapat, sementara aliran sungai membawa perjalanan mereka semakin jauh memasuki kawasan ekosistem pesisir.
Sebanyak 70 siswa didampingi empat guru pengampu kelas dan enam guru shadow mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir.
Kali ini, mereka tidak datang sekadar untuk melihat.
Mereka datang untuk belajar, mengamati, membersihkan, dan ikut merawat mangrove.

Para siswa kelas lima Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya mendengarkan penjelasan Kakak Instruktur sebelum naik perahu
Ketika Buku Pelajaran Berubah Menjadi Hutan Nyata
Selama ini siswa mengenal ekosistem mangrove melalui buku pelajaran, gambar, video, dan penjelasan guru. Namun pembelajaran di Pamurbaya memberikan pengalaman yang sama sekali berbeda.
Di hadapan mereka, akar-akar mangrove benar-benar terlihat. Satwa yang sebelumnya hanya muncul dalam materi pembelajaran kini bergerak di habitat aslinya.
Kak Devid, salah satu instruktur Mangrove Wonorejo, menjelaskan berbagai kekayaan hayati yang terdapat di kawasan tersebut. Tidak hanya satwa yang hidup di kawasan mangrove, terdapat pula burung migran yang datang dari wilayah Australia.
Salah satunya adalah burung bangau paruh kuning.
Penjelasan itu membuat para siswa semakin antusias. Sepanjang menyusuri Sungai Wonorejo, pandangan mereka terus tertuju ke pepohonan. Setiap kali burung terlihat, perhatian siswa langsung tertuju ke arah sumber suara dan gerakannya.
Bukan hanya burung.
Di sela-sela pepohonan bakau, mereka juga sempat melihat kera dari spesies Macaca yang mencari makan.
Bagi para siswa, pemandangan tersebut seperti membuka halaman buku pelajaran yang selama ini hanya mereka baca.
Bedanya, kali ini halaman itu hidup di depan mata.

Asyiknya menysuri sungai Wonorejo di kawasan hutan Mangrove Pamurbaya
Bukan Sekadar Melihat, Mereka Turun Tangan
Perjalanan berlanjut menuju anjungan gazebo di tepian kawasan mangrove.
Di sana, Kak Devid menjelaskan fungsi pohon bakau, cara menjaga kelestariannya, hingga peran ekosistem mangrove bagi lingkungan pesisir.
Para siswa diajak memahami bahwa keberadaan mangrove bukan sekadar memperindah kawasan pantai. Mangrove menjadi bagian penting dari ekosistem yang menyediakan habitat bagi berbagai satwa sekaligus membantu menjaga kawasan pesisir.
Namun pelajaran hari itu tidak berhenti pada mendengar penjelasan.
Para siswa kemudian mendapatkan tantangan yang membuat suasana berubah semakin riuh.
Pilah sampah!
Mereka harus menyisir kawasan sekitar akar mangrove dan mengumpulkan sampah plastik maupun botol kaca yang terbawa arus sungai hingga ke kawasan muara.
Akar mangrove memang mampu menjadi salah satu penahan material yang terbawa arus. Namun sampah yang tertinggal tetap harus diambil agar tidak mencemari kawasan pesisir dan mengganggu kehidupan biota.
Kompetisi pun dimulai.
Setiap kelompok bergerak cepat. Ada yang memungut botol plastik, ada yang mengumpulkan sampah kemasan, sementara anggota lainnya membawa hasil temuan menuju titik pengumpulan.
Bukan sekadar bersih-bersih.
Ada target yang harus dikejar.

Para siswa kelas lima Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya berkompetisi dalam memilah sampah di sekitar kawasan hutan mangrove Wonorejo
Kelompok dengan perolehan sampah terbanyak keluar sebagai pemenang.
Hasilnya, Kelompok 7 yang diketuai Ryu dari kelas 5 Al Mujahid berhasil keluar sebagai juara pertama.
“Kami senang bisa menjadi juara satu dalam mengumpulkan sampah yang ada di sekitar pohon mangrove,” ujar Ryu.
Dari Sampah Beralih ke Menanam
Setelah sampah terkumpul, aksi siswa belum selesai.
Mereka kembali mendapatkan tantangan untuk ikut menjaga keberlanjutan kawasan mangrove melalui penanaman tunas bakau.
Kali ini, tanah menjadi sasaran tangan-tangan kecil mereka.
Salah seorang siswa, Raya dari kelas 5 Al Hafiz, bahkan begitu antusias ketika mendapatkan kesempatan menanam salah satu spesies mangrove, Avicennia.
“Kak, aku boleh menanam tanaman Avicennia ini?” tanyanya penuh semangat.
Tunas itu kemudian ditanam.
Satu per satu siswa ikut terlibat. Mereka belajar bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Memungut satu botol plastik, mengenali satu jenis tanaman, atau menanam satu tunas mangrove pun bisa menjadi bagian dari aksi menjaga ekosistem.
Hari itu, siswa Kreatif 20 tidak hanya belajar tentang rantai makanan.
Mereka melihat sendiri bagaimana tumbuhan, satwa, air, tanah, manusia, dan lingkungan saling terhubung.
Pulang Membawa Pengalaman
Rasa lelah akhirnya terasa. Namun wajah para siswa justru menyimpan kepuasan.
Mereka telah menyusuri kawasan mangrove, melihat burung migran, menyaksikan kera Macaca, belajar tentang fungsi bakau, memungut sampah, mengikuti kompetisi, hingga menanam tunas mangrove.

Dengan penuh keceriaan dan hati hati para siswa kelas lima Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya menanam tunas bakau.
Semuanya dilakukan dalam satu pengalaman belajar di alam terbuka.
Ustadzah Erlin, salah satu pengampu kelas 5 Al Mujahid, mengatakan pelibatan siswa secara langsung menjadi bagian penting dari pembelajaran lingkungan.
“Kami sengaja melibatkan para siswa ini untuk aksi langsung dalam menjaga kelestarian hutan mangrove agar kelak mereka menjadi pemimpin yang amanah juga dalam melestarikan flora dan fauna di hutan mangrove,” kata Ustadzah Erlin.
Apa yang terjadi di Pamurbaya hari itu menjadi lebih dari sekadar kegiatan luar kelas.
Buku pelajaran mereka tinggalkan sejenak. Hutan mangrove mengambil alih ruang kelas.
Di sana, 70 siswa Kreatif 20 belajar bahwa ekosistem bukan sekadar definisi dalam buku.
Ekosistem adalah kehidupan.
Dan untuk menjaganya, mereka tidak cukup hanya tahu. Mereka harus turun tangan. (Rudi Ircham)